PEMBUATAN KOMPOS


A. Pendahuluan

Pengomposan merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Atau dengan kata lain kompos adalah hasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai.

Mikroba tersebut berupa bakteri, fungi, dan jasad renik lainnya. Sedangkan bahan organik untuk bahan baku kompos dapat berupa jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ternak, dan sebagainya.

Kompos mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya dapat memperbaiki struktur tanah, daya ikat partikel tanah, daya ikat air, draenase dan tata udara tanah, serta mempertinggi daya ikat tanah terhadap unsur hara, mengandung hara lengkap, membantu proses pelapukan mineral, memberikan makanan bagi mikroba, menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.

Proses pengomposan yang terjadi secara alamiah, membutuhkan waktu yang relatif lama dengan kisaran 2-3 bulan bahkan bisa mencapai 6-12 bulan tergantung bahannya. Melihat lamanya proses pengomposan alamiah membuat para ahli berupaya untuk mempercepat proses tersebut, salah satunya dengan pemanfaatan stater/aktivator kompos yang sekarang  banyak dijual ditoko-toko pertanian, seperti stardec, EM4, starbio, starbio plus dll.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kompos antara lain:

  • Kelembaban timbunan bahan kompos, kegiatan dan kehidupan mikrobia dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering atau basah atau tergenang.
  • Aerasi timbunan, apabila kondisinya terlalu anaerob   maka mikroba anaerob saja yang hidup dan mikroba aerob mati sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk mengalami volatilasi (NH3(gas)).
  • Suhu, suhu maksimum pengomposan adalah 60 0C, karena pada suhu ≥ 60 0C mikroba akan mati atau sedikit sekali yang hidup.
  • Suasana, proses pengomposan akan menghasilkan asam-asam organik yang dapat menurunkan pH, pembalikan timbunan mempunyai dampak menetralisasi keasaman.
  • Netralisasi keasaman, pemberian bahan kapur dapat menetralisir keasaman dan menambah kandungan hara kompos.

Pembuatan kompos dapat dilakukan dimana saja asalkan tidak mendapat sinar matahari dan hujan secara langsung. Idealnya tempat tersebut dibuat semacam   bangunan  atau  lubang  dengan   ukuran 1 x 1 x 1 m3 atau sesuai kebutuhan.

B. Bahan dan Alat dalam Pembuatan Kompos

1. Bahan yang dibutuhkan adalah : Bahan organik (jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam atau serbuk gergaji, limbah organik rumah tangga).
– Dedak
– Kapur
– Gula Pasir
– Urea
- Bahan stater/aktivator starbio plus, stardec..
- Air

2. Alat yang digunakan berupa :  sekop, garu, ember, dan wadahpenyimpanan.

Cara Pembuatan

a) Siapkan 2 – 3 sdm bahan aktivator (jika berbentuk bubuk) atau 10 ml  (jika berbentuk cair) + 1 sdm gula pasir + 10 liter air.  Dicampur merata dan didiamkan selama 10-15 menit. Dari  larutan tersebut diambil ± 250 ml dan dicampurkan ke dalam 10 L air diaduk merata dan siap digunakan (larutan aplikasi). 

b) Jerami atau bahan organik lainnya dipotong-potong ± 5-10 cm     seperti jerami, sekam, pupuk  kandang dan dedak dicampur merata. Untuk mendapatkan kompos yang baik perlu diperhatikan perbandingan antara jerami, sekam, pupuk kandang. Biasanya digunakan perbandingan 1 : 2 : 3

c) Sambil dicampur, bahan organik disirami dengan larutan aplikasi (larutan stater/aktivator) hingga  bahan  tersebut  memiliki  kandungan air  ±  30-40%.

d) Bahan kompos disimpan pada tempat yang ternaungi dan kering atau dimasukan dalam tempat penyimpanan yang telah disiapkan, dimana pada bagian atas dari tumpukan tersebut perlu ditutupi dengan plastik, dedaunan dll.

e) Pengontrolan kompos dilakukan untuk mengetahui suhu dan kelembaban bahan kompos, jika suhu kompos > 50-600C perlu dilakukan pembalikan untuk menetralisir panas dan perlu pula disirami air apabila bahan kompos mengalami masalah kekeringan.

f) Kompos yang menggunakan bahan stater/aktivator dapat digunakan setelah 4-6 minggu tergantung dari bahan pembuatnya.

C. Ciri-Ciri Kompos

Kompos dinyatakan berhasil bila memiliki ciri – ciri:

  • Warna coklat kehitaman,
  • Agak lembab,
  • Gembur,
  • Bahan pembentuknya sudah tidak dikenali lagi.

D. Aplikasi di Lapangan
Dosis umum yang digunakan adalah 30 ton per hektar dan biasanya digunakan sebagai pupuk dasar pada kegiatan budidaya tanaman.

Bahan Bacaan

Lena Walunguru, SP., M.Si.. Teknik Pengomposan. Artikel Elektronik (Student Design.Blogspot.com.2010)

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: