SL PTT Sebagai Wahana Peningkatan Kompetensi Petani


Menjadikan SL PTT Sebagai Wahana Peningkatan Kompetensi  Petani

Oleh :

Dandan Hendayana, SP

(PPL Kec. Cijati – Cianjur)

(tulisan ini dimuat di Tabloid Sinar Tani Edisi 25 – 31 Agustus 2010 No.3369 Tahun XL)

Pepatah lama dalam penyuluhan pernah mengatakan bahwa petani itu pintar di dunianya sendiri. Artinya dengan berbekal keahlian yang dimiliki dari pengalamannya, petani mampu melakukan kegiatan usatani dengan baik. Karena pengalaman merupakan guru yang paling baik. Akan tetapi pepatah baru mengatakan pengalaman saja belum cukup, ilmu pengetahuan ternyata tidak bersifat statis. Dengan perkembangan lingkungan dan perubahan ilmu pengetahuan yang terjadi, membawa ilmplikasi bahwa perubahan dan peningkatan produksi pertanian tidak dapat dihasilkan dengan hanya mengandalkan warisan budaya bertani yang ada. Kemampuan dan keahlian petani tidak cukup kita berdayakan dengan berbekal pengamalaman yang mereka miliki. Faktanya antara pengalaman yang dimiliki dan keadaan yang terjadi mempunyai perbedaan nyata.
Pemberdayaan petani salah satunya harus bertumpu kepada peningkatan kompetensi petani dalam menjalankan usahataninya. Peningkatan kompetensi dalam bertani, merupakan keniscayaan yang harus ditempuh dalam rangka menjawab semua tantangan yang ada. Meningkatnya kompetensi petani, merupakan salah satu cara dalam memberdayakan petani sebagai individu, keluarga dan masyarakat. Karena dengan kompetensi yang baik, akan membuka pintu kreativitas, etos kerja dan produktivitas dalam bekerja dan berusaha. Artinya dalam konteks pembinaan dan penyuluhan pertanian, mengarahkan perbaikan dalam kompetensi bertani, merupakan salah satu aspek yang penting.
Pengertian kompetensi dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan didefinisikan sebagai ; kemampuan, kecakapan, seperti upaya untuk meyesuaikan diri (Save M Dagun, 2005). Dalam persepsi yang lebih sempit, yang dimaksud dengan kompetensi adalah irisan antara kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Sehingga petani yang berkompetensi adalah petani yang mampu mengintegrasikan antara pengetahuan tentang pertanian yang dimiliki, dan tingkat adaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, serta mempunyai keahlian dalam berusaha yang memadai.
Sejauhmana penyuluh mampu mensinergikan pentingnya peningkatan kompetensi petani dalam kurikulum kegiatan penyuluhan? Alterantif yang dapat dilakukan adalah dengan mengefektifkan dan mengoptimalkan kegiatan Sekolah Lapangan khususnya SL PTT. Dilihat dari lokus materi (kontent) dalam kegiatan SL PTT, sudah merepresentasikan tujuan pencapaian penguasaan komptensi bertani yang lebih etis, estetis, dan humanis. Karena dilihat dari tujuan pelaksanaan program SL PTT bukan hanya mencapai target produksi dan produktivitas semata, meskipun hal ini penting. Akan tetapi ada tujuan yang lebih yang lebih humanis, yaitu menciptakan SDM petani yang cerdas dalam berfikir, cermat dalam bersikap dan cekatan dalam bertindak. Karena pelaksanaan kegiatan SL PTT salah satunya menekankan pada tingkat adopsi teknologi. Variabel inilah yang menjadi salah satu parameter keberhasilan pelaksanaan SL PTT.
Aspek kunci yang menjadikan pelaksanaan SL PTT sebagai wahana dalam peningkatan kompetensi petani, dapat didekati dengan beberapa cara sebagai berikut : 1) Pemberian dalam penjelasan konsep PTT lebih ditekankan kepada sisi teknis, dengan pertimbangan aspek kearifan lokal. Artinya dalam menjelaskan konsep PTT harus lebih disederhanakan dan memberikan kesan mudah dilaksanakan. Sehingga tidak menimbulkan hambatan psikologis yang tinggi, yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kesadaaran dan minat petani terhadap teknologi PTT. 2) Dalam pelaksanaan kegiatan SL PTT tujuan membangun kesadaran petani untuk mau dan mampu melakukan sesuatu, itu bersifat evolutif dan butuh waktu. Sehingga memerlukan proses seleksi dalam menentukan tujuan kegiatan penyuluhan, atau dengan kata lain perlu diingat bahwa proses penyerapan teknologi harus dilakukan step by step. 3) Menciptakan kebutuhan terhadap perubahan perilaku, hal ini dapat dilakukan dengan memberikan gambaran yang jelas dan gamblang mengenai manfaat dan faedah pelaksanaan teknologi PTT. Diharapkan dengan adanya nilai manfaat yang tinggi, akan memberikan dorongan motivasi secara internal terhadap diri petani. Aspek ini dapat diimbangi dengan dorongan motivasi eksternal, diantaranya dengan adanya bantuan saprodi dalam pelaksanaan SL PTT. 4) Bimbingan dan arahan senantiasa dilaksanakan secara kontinu dan permanen. Hal ini untuk menjaga menurunnya motivasi petani manakala menjumpai kesulitan dan hambatan. Kegiatan arahan ini harus bersifat monitoring bukan hanya sekedar instruksi dan evaluasi akhir saja. Dengan adanya monitoring yang periodik, diharapkan potensi masalah dapat teratasi dengan segera. Dan yang lebih penting dari kegiatan bimbingan ini adalah menciptakan hubungan komunikasi yang harmonis antara penyuluh dan petani.
Diharapkan dengan pelaksanaan SL PTT bukan hanya meningkatkan angka produksi secara statistik saja, namun juga memberikan efek jangka panjang terhadap perubahan perilaku dalam bertani yang lebih baik. Sehingga pemberdayaan petani baik dalam aspek kesejahteraan maupun peningkatan keamampuan dapat tercapai dengan pelaksanaan SL PTT.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: