Menyuluh; Menunaikan Tanggung Jawab Hak Azasi Bagi Petani


Menyuluh; Menunaikan Tanggung Jawab Hak Azasi Bagi Petani

Oleh :

Dandan Hendayana, SP

(PPL Kec. Cijati – Cianjur)

Kegiatan penyuluhan merupakan hal yang penting dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas sumberdaya petani.  Aktivitas pembelajaran dalam kegiatan penyuluhan mendudukan petani pada dua tempat  sekaligus, baik sebagai objek maupun subjek belajar.  Sebagai objek belajar petani berperan sebagai pengguna (user) dari berbagai informasi dan teknologi usaha tani yang disampaikan penyuluh.  Sedangkan sebagai subjek belajar, petani berperan sebagai pengambil keputusan (decision making) dalam melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap informasi teknologi, agar sesuai dengan kebutuhannya.  Hal inilah yang menjadikan posisi kegiatan penyuluhan dewasa ini menjadi sangat penting dan strategis. Aktualisasi keberhasilan kegiatan penyuluhan dapat dirasakan salah satunya dengan pencapaian sasaran dan target produksi nasional (khususnya padi).  Diakui atau tidak keberhasilan tersebut didalamnya terdapat peran penyuluh dalam membantu petani untuk mengembangkan usaha taninya.

Penulis berkeyakinan, bahwa kita sebagai penyuluh tentu tidak hanya berpuas diri dengan pencapaian ini. Keberhasilan kegiatan penyuluhan harus ditingkatkan lagi, mengingat tantangan yang dihadapi semakin besar dan menuntut kerja yang ekstra keras.  Terdapat masih banyak pekerjaan rumah  yang harus diselesaikan oleh penyuluh dalam upaya mencerdaskan dan mensejahterakan kehidupan petani.  Oleh karena itu peran dan fungsi penyuluh seyogianya harus mengalami up grading (peningkatan) sejalan dengan perkembangan lingkungan sosial yang semakin dinamis dan kompleks.  Berkenaan dengan hal tersebut, pelaksanaan kegiatan penyuluhan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang maksimal dalam upaya membangun sumberdaya petani khsususnya.   Upaya yang dianggap perlu dilaksanakan dalam menstimulus keadaan ini, adalah bagaimana menjadikan kegiatan penyuluhan tidak hanya sekedar menyelenggarakan kegiatan pengajaran dan pelatihan kepada petani. Akan tetapi kegiatan penyuluhan diharapkan menjadi media “pembinaan” bagi petani.  Pembinaan dalam makna bahwa kegiatan penyuluhan tidak saja memberikan pengajaran yang bersifat informative dan memberikan pelatihan yang bersifat praktis.  Melainkan penyuluhan harus dikemas kedalam konsep menciptakan iklim belajar sepanjang hayat bagi petani.  Yakni menciptakan hubungan komunikasi dua arah yang harmonis, dan yang lebih penting adalah menciptakan kebutuhan (need) sepanjang waktu pada diri petani akan kegiatan belajar melalui kegiatan penyuluhan.

Dengan konsep pembinaan -bukan hanya mengajar dan melatih- maka kegiatan penyuluhan akan lebih bersifat unlimited (tak terbatas).  Artinya kegiatan penyuluhan tidak ditentukan ada tidaknya program atau  kegiatan, tidak terikat waktu dan lokasi, dan yang lebih esensi adalah kegiatan penyuluhan bukan sekedar melaksanakan tanggung jawab profesi. Tetapi menyuluh adalah menunaikan tanggung jawab hak azasi bagi petani, dalam kondisi inilah  posisi penyuluh mendapat tempat yang mulia. Mengapa demikian? Karena dengan keberadaan penyuluh masa depan hidup petani ditentukan.  Apakah hal ini menjadi beban bagi penyuluh? Sekali lagi tidak! Karena disinilah letak kehormatan dan kemuliaan penyuluh dalam menjalankan tugas dan profesinya sebagai tenaga edukatif (pendidik atau pembina) yang melayani petani.

Lalu sejauhmana penyuluh dapat menjalankan perannya sebagai pembina bagi petani.  Setidaknya ada  tiga peran yang dapat dijalankan dalam menunaikan kewajiban seorang pendidik dan pembina bagi penyuluh. Dengan  meminjam istilah  Ki Hajar Dewantoro, seorang penyuluh dapat berperan sebagai Ingarso sung tulodo (penyuluh sebagai pemberi teladan), Ingmadyo mangun karso ( penyuluh sebagai jiwa pembangun) dan Tutwuri handayani (penyuluh sebagai pemberi semangat dan motivasi).

Sebagai pemberi teladan, seorang penyuluh tidak hanya memberikan pesan-pesan informasi pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memberikan pesan-pesan moral atau nilai-nilai sosial yang luhur, nilai etika, serta nilai spiritual dan budi pekerti.  Sebagai jiwa pembangun, seorang penyuluh diharapkan mampu menjadi agent of change, yaitu seseorang yang mempunyai daya cipta, kreasi, dan inovasi dalam rangka memperbaiki setiap keadaan. Dengan statusnya ini diharapkan penyuluh tampil sebagai icon dari setiap perubahan di lingkungan hidup petani.

Sedangkan sebagai pemberi semangat hal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan penyuluhan diharapkan mampu menciptakan energi perubahan bagi petani.  Energi yang mampu mendorong petani kearah perubahan yang lebih maju, kreatif dan mandiri.

Dengan ingarso sungtulodo, ingmadyo mangun karso, dan tutwuri handayani, kehadiran penyuluh akan selalu dicari dan dinanti oleh petani.  Disamping itu tujuan pelaksanaan penyuluhan untuk mengadakan perubahan perilaku, dapat dicapai secara integrasi dan lestari.  Melalui penyuluhan dengan pendekatan proses pembinaan, pelaksanaan kegiatan penyuluhan diarahkan kepada tataran pembangunan sumberdaya petani yang menjangkau tiga ranah sekaligus.  Yakni pencapaian pembangunan sumberdaya petani dengan kecerdasan intelektualnya, keserdasan emosionalnya dan sekaligus memberikan kecerdasan spiritualnya. Dengan kondisi seperti ini, pembangunan sumberdaya petani dan pertanian yang selama ini menjadi impian dapat terwujud sesuai harapan.

Cianjur, 27 Agustus 2010.

(Sumber Bacaan ; dari berbagai sumber) 

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: