ARAH DAN SASARAN PEMBANGUNAN EKONOMI CIANJUR


Arah dan Sasaran Pembangunan Ekonomi Cianjur

Penulis :

Dandan Hendayana, SP

(Koordinator PPL BPP Kec. Cijati-Cianjur)

 

 

Pendahuluan

Pembangunan ekonomi merupakan suatu parameter dimana suatu daerah dikatakan maju dan sejahtera. Oleh karena itu porsi pertumbuhan indikator perekonomian kerap kali menjadi center dari berbagai kebijakan publik yang dilaksanakan pemerintah.  Mengapa indikator perekonomian dipandang cukup kuat dan strategis, karena faktor pereknomian mempunyai banyak link atau kaitan dengan aspek lainnya. Sebagai  penyelenggara dan penentu kebijakan publik, aspek kesejahteraan masyarakat dari sudut pandang ekonomi merupakan sebuah keniscayaan bagi pemerintah daerah untuk diperhatikan lebih.  Dibanding dengan aspek lainnya semisal ; pendidikan, hukum, budaya, politik, dan yang lainnya, faktor ekonomi mempunyai skala prioritas tertinggi. Logikanya dengan masyarakat yang sejahtera maka akses pendidikan dapat dijangkau, budaya masyarakat dapat lebih bermartabat.  Namun yang menjadi persoalan pemerintah daerah kerap kali mengahadapi kebingungan manakala dihadapkan kepada beberapa variabel pembangunan, manakah yang harus dipercepat terebih dahulu.  Akan tetapi permasalahan dapat diteratasi jika pelaku penentu kebijakan dapat membuat suatu telaahan yang objektif dan jujur terhadap kebutuhan masyarakatnya. Maka relatif dapat dikatakan bahwa faktor ekonomi merupakan sasaran utama yang harus menjadi pekerjaan utama yang harus diperbaiki.

Potret Kondisi Ekonomi Kabupaten Canjur.

Kabupaten Cianjur merupakan daerah dengan latar belakang sumbrerdaya alam yang dimiliki cenderung merupakan daerah dengan basis pertanian yang dominan. Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat. Dari luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 hektar, pemanfaatannya meliputi :

  1. berupa hutan produktif dan konservasi 83.034 Ha     (23,71 %)
  2. berupa tanah pertanian lahan basah,      58,101 Ha        (16,59 %)
  3. berupa lahan pertanian kering dan tegalan,  97.227 Ha  (27,76 %)
  4. berupa tanah perkebunan,                       57.735 Ha             (16,49 %)
  5. berupa tanah dan penggembalaan / pekarangan,  3.500 Ha   (0,10 %)
  6. berupa tambak / kolam,                                 1.239 Ha             (0,035 %)
  7. berupa pemukiman / pekarangan              25.261 Ha           (7,20 %)
  8. berupa penggunaan lain-lain                         22.483 Ha             (6.42 %)

(sumber : wikipedia.com)

Berdasarkan data tersebut, maka sekitar 80% lebih lahan yang tersedia di wilayah Cianjur merupakan lahan potensial untuk melaksanakan sistem pertanian yang intensif.  Artinya dengan manajemen pengelolaan dan dukungan kebijakan yang berpihak pada sektor pertanian, maka bukan mustahil pertanian bagi Cianjur dapat menjadi leading sektor yang unggul.   Selain itu data SDM yang dimiliki oleh Cianjur adalah masyarakat dengan kualifikasi pendidikan yang rendah. Ini diukur dari data angka partisipasi sekolah.

  1. Angka Partisipasi Kasar SD/MI mencapai 84,52 %
  2. Angka Pastisipasi Kasar SMTP mencapai 38,50 %
  3. Angka Partisipasi Kasar SMTA mencapai 11,98 %

(sumber : wikipedia.com)

Dengan keragaan demografi penduduk seperti itu, dapat dipastikan bahwa masyarakat Cianjur adalah masyarakat dengan budaya pertanian yang kuat. Karena dengan kondisi tersebut dikatagorikan masyarakat Cianjur merupakan masyarakat tradisional agraris.

Data perekonomian Cianjur masih menunjukan dominasi sektor pertanian yang cukup besar. Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sekitar 42,80 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan dan jasa yaitu sekitar 14,60%. dan pengiriman pembantu (TKI) 30%.

Dengan melihat gambaran tersebut, struktur perekonomian Cianjur kuat didominasi oleh sektor pertanian.  Meskipun sektor jasa pengiriman TKI mempunyai kontribusi cukup besar, tetapi sektor ini tidak dapat dijadikan pondasi dalam peningkatan kesejahteraan.  karena sektor jasa TKI bersifat temporary dan sementara. Hal  ini merupakan indikator yang kuat bahwa arah pembangunan di Cianjur mempunyai bandul yang condong ke sektor pertanian.

Analisis Kendala

Sejauhmana pertanian masih belum menjadi leading sektor ekonomi di Cianjur, tentu hal ini tidak lepas dari aspek kendala yang menyumbat dan menutup pintu keberpihakan terhadap pertanian. Beberapa hipotesa dalam menganalisa aspek kendala diantaranya :

  1. Dalam penentuan visi dan misi pembangunan di Cianjur, pertanian masih berada dalam posisi sub ordinat. Dalam arti kata kepentingan pembangunan pertanian masih kalah penting dibanding dengan peningkatan pendidikan, kesehatan, reformasi birokrasi, penegakan hukum dll.  Meskipun aspek tersebut penting, tetapi tidak harus bersifat saling mengalahkan. Setiap kali peletakan visi dan misi pembangunan secara umum, kerapkali sektor pertanian mendapatkan posisi yang kurang superior. Jika ada terdapat 5 buah visi dan misi pembangunan, maka pertanian mendapatkan posisi no 4 atau no 5. Dampaknya memberikan kesempatan yang kurang leluasa untuk mengembangkan potensi dan alokasi anggaran pembangunan sangat dibatasi.  Padahal jika melihat kompisisi demografi, pertanian menyerap 63% angkatan kerja yang ada di Cianjur.
  2. Pengembangan Infrastruktur fisik yang kurang seimbang antara utara dan selatan.  Hal ini memberikan dampak terjadinya gap antara utara dan selatan.  Kelengkapan fasilitas umum antara utara dan selatan sangat nyata.  Mengingat secara geografis wilayah Cianjur terbagi dua, 30% wiayah geografis di utara dan 70% wilayah geografis di selatan.  Implikasinya dengan keterbatasan infrastruktur yang ada di wilayah selatan, berdampak terhadap pengembangan kegiatan ekonomi yang mandeg dan kurang berkembang. Secara ekonomis ini kurang menguntungkan,karena pengembangan ekonomi tanpa didukung oleh sarana yang memadai akan menjadikan kegiatan ekonomi biaya tinggi. Sehingga tidak efisien dan kurang kompetitif.  Oleh karena itu  sangat wajar manakala kegiatan pertanian di wilayah cianjur selatan kurang menguntungkan. Karena disebabkan petani dihadapkan pada biaya produksi yang sangat tinggi. Selain aspek ekonomi biaya tinggi, secara jangka panjang akan terjadi proses pemiskinan masyarakat untuk wilayah cianjur selatan.
  3. Pemerataan jumlah penduduk  yang tidak merata antara utara dan selatan menjadikan perhatian peningkatan dan pengembangan pembangunan menjadi berat sebelah. Padahal secara potensi, wilayah selatan mempunyai kemampuan kesediaan lahan pertanian yang cukup besar.  Jika dilihat tingkat kepadatan penduduk maka potret penyebaran penduduk di Cianjur kurang merata.
  • 63,90 % penduduk di wilayah utara dengan luas wilayah 30,78 %
  • 19,19 % penduduk di wilayah tengah dengan luas wilayah 28,25 %
  • 17,12 % penduduk di wilayah selatan dengan luas wilayah 40,70 %

(sumber : wikipedia.com)

Dalam hal ini pemerintah daerah cianjur seyogianya harus mampu melakukan optimasi terhadap kemampuan SDA yang di cianjur selatan, sehingga dapat menciptakan simpul simpul kegiatan ekonomi. Agar terjadi mobilisasi penduduk dari utara ke selatan. Bukan  yang terjadi saat ini adalah sebaliknya banyak warga cianjur selatan yang migrasi ke cianjur utara dan menetap. Sehingga kebutuhan SDM yang terdidik di wiayah cianjur selatan semakin berkurang.

Fokus dan lokus penentuan rencana pembangunan yang berbasis pertanian di Cianjur kurang terarah dan bias.  Hal ini menyebabkan instrumen pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang berbasis pertanian tidak menentu dan seadanya.  Dengan digagasnya Kabupaten Cianjur sebagai kawasan agribisnis mestinya diikuti oleh rangkaian program dan kegiatan yang mendukung pengembangan pertanian dari sektor hulu hingga hilir. Tidak berhenti hanya sebatas slogan dan semboyan.   Artinya antara fasilitas dan insentif yang dilaksanakan pemerintah dengan visi tidak klop dan kurang pas.

 

Alternatif Solusi

Berdasarkan asumsi permasalahan yang dijelaskan di atas, maka terdapat beberapa alternatif solusi yang dapat dijadikan referensi, untuk menentukan arah dan sasaran pembangunan pertanian Cianjur ke depan.

  1. Jika meninjau pada teori kemiskinan, bahwa proses pemiskinan masyarakat ditentukan oleh tiga aspek yaitu : aspek skill SDM, jumlah lapangan kerja, dan aspek pendapatan rumah tangga.   Ketiga aspek tersebut bersifat siklis dan kontinyu.  Dengan demikian karena jumlah SDM Cianjur dengan kualifikasi pendidikan yang rendah, maka dapat dipastikan skill SDM nya rendah pula, maka perbaikan lapangan kerja yang cocok harus disediakan dan memadai.   kondisi ini memposisikan pertanian sebagai penampung angkatan kerja tersebut, harus sedemikian rupa mendapat perhatian utama. Oleh karena itu perlu adanya suatu revisi penempatan kepentingan pertanian dalam perumusan visi pembangunan ke depan dengan porsi yang lebih besar. Dalam konsep pembangunan dewasa saat ini, keberhasilan pembangunan ekonomi akan ditentukan oleh sejauhmana pemanfaatan SDA dapat dikelola dengan baik dan lestari.  Untuk kasus ini Cianjur dapat dikatakan belum sepenuhnya menyentuh pengelolaan SDA yang terencana dan mempunyai tujuan yang jelas. Indikator sebagai penghasil beras saja belum cukup mewakili cianjur sebagai daerah agribisnis, sepanjang seluruh petani cianjur belum merasakan peningkatan pendapatan secara menyuluruh dari sektor pertanian.
  2. Seyogianya pemerintah daerah Cianjur mampu melakukan langkah terobosan yang berani untuk mencurahkan anggaran dalam memperbaiki dan melengkapi infrastruktur wilayah Cianjur selatan. Oleh karena jika berbicara hak dan tanggung jawab, merupakan hak dari warga cianjur selatan untuk menikmati seperti yang dinikmati warga cianjur utara.  Selain itu jika situasi dan kondisi  seperti ini dibiarkan, maka minat dan animo investor akan semakin berkurang untuk membangkitkan kegiatan ekonomi di wilayah selatan cianjur.  Penyediaan fasilitas publik dan fasilitas fisik umum lainnya adalah merupakan tanggung jawab pemerintah bukan tanggung jawab pelaku ekonomi.  Oleh sebab itu berbicara pengembangan ekonomi pertanian di cianjur erat kaitannya dengan kelengkapan sarana fisik dan sarana umum lainnya, khususnya di cianjur selatan yang potensial dengan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan.
  3. Perlu adanya komitmen dan konsistensi dari pihak pemerintah daerah cianjur dalam melakukan identifikasi pertanian sebagai sektor induk peningkatan kesejahteraan masyarakat.  Mengapa demikian? untuk cianjur secara geoekonomi kurang memadai untuk mengembangkan sektor industri dan manufactur, karena faktor jarak yang cukup jauh terhadap pelabuhan laut dan udara. Salah satu sektor semi industri yang dapat dilaksanakan di cianjur adalah sektor industri rumah tangga. Sekali lagi dominasi sektor industri rumahtangga dominasi bergerak dalam pengolahan hasil pertanian.

Penutup

Orientasi pembangunan cianjur sudah saat harus bertumpu kepada kemampuan dan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.  Pertimbangan yang dilakukan bukan lagi harus menyerah kepada keadaan, tetapi apa yang harus dilakukan untuk menaklukan keadaan.  Perkembangan lingkungan sosial dewasa ini menuntut iklim perubahan yang serba cepat dan kompetisi yang dinamis. Oleh karena masyakarat dituntut untuk dipersipakan dalam menghadapi kondisi persaingan khususnya bidang ekonomi.  Saah satu cara untuk mempersiapkan masyarakat adalah dengan cara memberikan kesempatan yang selebar-lebarnya untuk melakukan usaha dan kegiatan disektor ekonomi secara bebas yang sesuai dengan daya dukung lingkungan alam dan sosialnya.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: