Membangun Kompetensi Penyuluh


Mencermati kenyataan yang dihadapi saat ini profesi penyuluh kurang prestise dibanding dengan profesi pekerjaan yang lainnya. Jika kita bandingkan dengan profesi dokter atau guru misalnya, maka prestise porfesi penyuluh menempati kasta dibawahnya. Pertanyaan yang muncul mengapa pekerjaan penyuluh kalah gengsi dibandingkan dengan pekerjaan dokter dan guru? Jika kita menelisik lebih jauh, salah satu penyebabnya adalah kurangnya nilai-nilai profesionalitas yang melekat pada penyuluh dalam menjalankan pekerjaannya.  Kondisi ini dilatarbelakangi oleh lemahnya tanggung jawab profesi yang dijalankan. Pelaksanaan tanggung jawab profesi akan terkait dengan aspek penguasaan kompetensi akan profesi tersebut. Sehingga penguasaan kompetensi menjadi titik pangkal dalam upaya menciptakan kemampuan profesional dalam menjalankan profesi suatu pekerjaan. Sebagai contoh seorang dokter yang profesional dia akan menguasai teknik diagnosa suatu penyakit dengan efektif, dan mampu memberikan rekomendasi medis dengan benar terhadap penyakit tersebut. Sama halnya dengan penyuluh yang profesional hendaknya mampu melakukan teknik pengamatan dan analisa yang efektif terhadap suatu permasalahan, dan mampu memberikan alternatif pemecahan yang relevan.

Berbicara tentang pekerjaan penyuluh sebagai suatu profesi, maka akan terkait dengan aspek profesionalitas dalam menjalankan setiap aktivitasnya. Profesionalitas suatu pekerjaan akan tercermin minimal dalam dua aspek, pertama aspek performa pekerjaan dan kedua aspek output pekerjaan. Indikator yang paling umum untuk mengukur kinerja suatu pekerjaan adalah efisiensi dan efektifitas. Efisiensi lebih menekankan pada pencapaian indikator aspek performa pekerjaan. Sedangkan efektifitas merupakan indikator pencapaian output pekerjaan. Dalam hal ini pencapaian keberhasilan suatu pekerjaan akan dipengaruhi oleh sejauhmana si pelaku dapat mengaktualisasikan kompetensi yang dimilikinya dalam menjalankan tanggungjawab pekerjaannya. Istilah kompetensi dengan meminjam pengetian dari UU No.14 Tahun 2005 tentang UU guru dan dosen. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai dalam menjalankan tugas keprofesionalan.

Kegiatan penyuluhan sebagai bagian dari tugas keprofesionalan sudah barang tentu memerlukan kualifikasi kemampuan yang terstandarkan.  Karena sebagai tenaga profesional penyuluh diharuskan mempunyai keahlian yang qualified sesuai bidangnya.  Berdasarkan definisi tersebut penyuluh dituntut untuk mempunyai kemampuan dan keahlian yang memadai, dalam menjalankan pekerjaannya sebagai penyuluh.

Oleh karena itu seorang penyuluh yang profesional minimal harus mempunyai empat kemampuan dasar yaitu :

  1. Kemampuan  pengetahuan

Kemampuan pengetahuan merupakan kemampuan dasar yang tidak boleh tidak harus ada pada setiap penyuluh. Kemampuan pengetahuan dalam hal ini menekankan kepada kemampuan seorang penyuluh dalam menguasai isi dan substansi setiap isue penyuluhan dan isue-isue pertanian lainnya yang tengah dihadapi. Kemampuan pengetahuan akan memberikan pengaruh terhadap kapasitas seorang penyuluh dalam menyusun materi penyuluhan secara luas, sistematis, dan mendalam. Selain itu dengan kemampuan pengetahuan akan memberikan keleluasaan kepada penyuluh untuk menentukan pendekatan, media dan  metode penyuluhan yang efektif dan efisien. Kemampuan pengetahuan hendaknya harus dinamis tidak boleh stagnan. Setiap penyuluh diharapkan mampu untuk selalu meng-upgrade kemampuannya sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang berkembang.  Oleh karena itu diperlukan daya adaptasi yang tinggi setiap penyuluh terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan  yang selalu berubah.

  1. Kemampuan  Andragogik

Pemahaman terhadap aspek andragogi ini tidak sebatas kepada perhatian terhadap atribut kegaiatan belajar. Seperti susana belajar orang dewasa dapat dimana saja dan kapan saja. Selain aspek ruang dan waktu, salah satu kemampuan penting lainnya adalah kemampuan mengajar (teaching skill) kepada orang dewasa.  Dalam hal ini setiap penyuluh diharapkan memiliki kemampuan dasar-dasar psikologi orang dewasa,  gaya mengajar dan teknik mengajar pada orang dewasa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan andragogik adalah ; pemahaman wawasan pendidikan orang dewasa, memahami kebutuhan orang dewasa, mengembangkan kegiatan penyuluhan yang sesuai dengan kondisi orang dewasa, perancangan kegiatan penyuluhan yang lebih bersifat partisipatif, pemanfaatan teknologi penyuluhan secara optimal, dan pelaksanaan evaluasi penyuluhan yang relevan dengan tujuan kegiatan penyuluhan yang diselenggarakan. Aspek terpenting dalam pelaksanaan pendidikan orang dewasa khususnya terhadap petani dalam kegiatan penyuluhan adalah menciptakan konsep dalam pendekatan belajar orang dewasa.  Yakni konsep belajar sambil mengerjakan (learning by doing) dan belajar pada pekerjaan (learning on the job).

  1. Kemampuan  kepribadian

Kepribadian seorang penyuluh senantisa harus mendapatkan perhatian yang serius dalam menciptkan kinerja yang optimal. Dalam hal ini kepribadian erat kaitannya dengan cerminan etos kerja dan budaya kerja yang berkembang.  Sudah menjadi tradisi dan budaya, jika etos kerja dan budaya kerja bangsa kita lemah dan kurang.  Budaya tepat waktu dan disiplin terhadap jadwal dan rencana merupakan situasi yang langka untuk saat ini.  Hampir disetiap bidang pekerjaan tidak terkecuali bagi penyuluh budaya terlambat sudah menjadi kebiasaan yang lumrah. Tenaga penyuluh yang profesional hendaknya bisa mengahapus etos kerja yang buruk dengan etos kerja yang baik. Etos kerja yang baik adalah kemampuan diri (personal skill) dalam melakukan pekerjaan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, tidak setengah-setengah, serius dan disiplin terhadap waktu.

  1. Kemampuan Sosial

Kemampuan seorang penyuluh dalam memposisikan perannya sebagai fasilitator, motivator, dan inovator harus diimbangi dengan beberapa kecakapan sosial (social skill).  Beberapa kemampuan sosial yang hendaknya dikuasai seorang penyuluh diantaranya ;  teknik komunikasi yang baik (lisan, tulisan dan isyarat), penggunaan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, mampu melakukan pergaulan sosial secara efektif, memberikan penghargaan terhadap norma sosial yang berlaku, dan mampu menerapkan prinsip-prinsip kolektifitas yang tinggi ditengah-tengah lingkungan sosial.

Dengam memahami dan berusaha melaksanakan penguasaan keahlian tersebut, niscaya peningkatan keporfesionalan dalam dalam pekerjaan penyuluhan dapat ditingkatkan.  Semuanya berpulang pada sejauhmana motivasi SDM penyuluh yang eksis sekarang mampu memahami akan pentingnya peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai penyuluh.

Penulis :

Dandan Hendayana,SP

(Koord. PPL Kec. Cijati – Cianjur)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: