Anak Putus Sekolah di Cianjur, Setahun Tercatat 700 Orang


Sekitar 700 anak usia sekolah di Kabupaten Cianjur mengalami putus sekolah dalam kurun waktu setahun terakhir. Berdasarkan catatat Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur dari jumlah anak putus sekolah sebanyak itu sebesar 45 persen di tingkat SMP.

Mengenai hal tersebut dibenarkan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Agus Melani belum lama ini. Dia mengatakan, jumlah anak putus sekolah untuk tingkat SD sebanyak 135 orang, tingkat SMP 322 orang dan tingkat SMA sebanyak 240 orang. “45 persen anak putus sekolah itu di tingkat SMP,” katanya.

Dia mengungkapkan, penyebab utama angka putus sekolah itu salah satunya faktor ketidakmampuan masyarakat yang lokasinya berada di daerah terpencil. Faktor lainnya yaitu jarak rumah warga dengan sekolah cukup jauh. Kondisi tersebut sangat disayangkan pihaknya padahal upaya mengatasi hal itu sudah dilakukan termasuk dengan menggratiskan biaya bagi anak SD dan SMP.

“Sebenarnya kami sudah berupaya memberikan kesempatan supaya mereka bisa sekolah diantaranya bagi siswa SD dan SMP gratis, tapi kadang – kadang ada saja faktor penyebabnya seperti jarak rumah dengan sekolah kilometer tidak menyekolahkan anaknya karena merasa jauh, memang masih perlu ditumbuhkan dan didorong supaya masalah jarak ini bisa teratasi,” katanya.

Dikatakan Agus faktor lainnya yang menyebabkan masih tingginya angka putus sekolah, yaitu pernikahan, bekerja, menjadi TKW, pindah ke luar kota, dan masuk pondok pesantren. Salah satu upaya menekan angka DO sekolah diantaranya menggulirkan program ” Perelek Pendidikan “. Tujuannya melalui program tersebut ada kebersamaan dari orang yang mampu untuk peduli pendidikan, sekaligus membantu yang kurang mampu.

Kemudian dari pemerintah ada beberapa upaya implementasinya pada program pemerintah yang dikuatkan dengan terbitnya Impres terkait Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar sembilan tahun.
“Aplikasinya dilapangan dengan menbangun kelas jauh, sekolah terbaru, penambahan lokal, kejar paket, sekolah seatap, sekolah cerdas,” katanta.

Diakui Agus, upaya menekan angka putus sekolah hingga nol masih sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, pihaknya membutuhkan kerjasama dari berbagai elemen masyarakat untuk peduli akan pendidikan di Cianjur. Kemudian tahun ini Pemerintah Kabupaten Cianjur menganggarkan dana pendidikan lebih dari 30% dari anggaran daerah. Itu belum termasuk dana bos yang dialokasikan untuk Kabupaten Cianjur dari pusat, dan Bantuan pendidikan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat. (A-116/das)***

From : PIKIRAN RAKYAT ONLINE SENIN, 13/06/2011 – 04:54

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: