BENEFITS AND RISKS ANALYSIS OF RICE HYBRIDS



 

BENEFITS AND RISKS ANALYSIS

OF RICE HYBRIDS

 

PERFORMA TIGA PADI HIBRIDA

ARIZE, SL8SHS, DAN INTANI 2

DI BANGUNTAPAN, BANTUL

 

 

 

 

Tim Peneliti

Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada

September 2007

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah pangan merupakan problem yang serius di negara kita. Sejak Negara kita merdeka, masalah ini selalu menghantui kita, meskipun sudah sejak lama diingatkan oleh Presiden Soekarno dalam petikan pidatonya saat meletakkan batu pertama gedung Fakultet Pertanian Universitas Indonesia:      “…. Camkan, sekali lagi camkan,… kalau kita tidak “aanpacken” soal makanan rakyat ini secara besar-besaran, secara radikal, dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka! Jadikanlah bangsamu ini bangsa yang kuat, bangsa yang merdeka dalam arti merdeka yang sebenar-benarnya”.

Pernyataan tersebut mengingatkan kita bahwa negara harus secara lebih serius menangani masalah pangan untuk mensejahterakan masyarakat dengan semua kekuatan yang kita miliki, atau dengan kata lain kemandirian pangan harus kita usahakan secara serius.

Masalah kemandirian pangan harus diarahkan pada kekuatan ekonomi domestik, yang menyediakan pangan bagi seluruh rakyat, terutama dari produksi dalam negeri, dalam jumlah dan keanekaragaman yang mencukupi serta terjangkau dari waktu ke waktu. Program ketahanan pangan dan teknologi yang digunakan selama ini kemungkinan belum dapat mencapai tujuan tersebut terbukti dengan adanya impor beras dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu program yang digulirkan pemerintah pada tahun 2007 ini adalah peningkatan produksi beras dua juta ton melalui Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). P2BN merupakan upaya yang terkoordinasi untuk membangun pertanian tangguh dengan memasyarakatkan teknologi dan inovasi baru melalui upaya Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). Pada prakteknya, teknologi yang diintrodusir salah satunya adalah padi hibrida.

Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, jumlah varietas padi hibrida yang telah dilepas sebanyak 29 varietas. Sebagai lembaga pendidikan dan penelitian, Fakultas Pertanian UGM terpanggil untuk melakukan penelitian lapangan tentang beberapa jenis padi hibrida yang direkomendasikan untuk ditanam tersebut. Hal ini kami lakukan mengingat potensi padi hibrida yang dapat memberikan produksi tinggi di satu sisi, tetapi di sisi lain masih banyak yang harus dikaji terutama berkaitan dengan kebutuhan hara, ketahanan terhadap organisme pengganggu, perhitungan usahatani dan kondisi sosial budaya masyarakat petani.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian lapangan ini bertujuan untuk mengetahui performa tiga varietas padi hibrida (Arize Hibrindo R-1 [selanjutnya disebut Arize], SL8SHS, dan Intani 2) dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan, ketahanan terhadap hama dan penyakit, hasil, serapan unsur hara, pendapatan usaha tani dan respons petani.

II. BAHAN DAN METODE

A. Tempat dan Waktu

             Penelitian dilaksanakan di Boto Kenceng, Banguntapan, Bantul dan bekerjasama dengan Kelompok Tani Ngudimulyo dan Dinas Pertanian dan Kelautan Kabupaten Bantul. Kegiatan penelitian dimulai pada bulan Maret sampai dengan Juli 2007.

 B. Benih Padi dan Sarana Produksi Lainnya

             Benih padi hibrida Arize, SL8SHS, dan Intani 2 masing-masing diperoleh dari pengembangnya yaitu Bayer CropScience, Sang Hyang Sri, dan BISI. Benih IR 64 yang berlabel dibeli dari toko pertanian di Yogyakarta. Sarana produksi lain seperti pupuk dan pestisida dibeli di toko pertanian di Yogyakarta.

C. Persemaian

Benih padi hibrida direndam dengan air selama dua puluh empat jam dan selama perendaman dilakukan pencucian dengan air bersih. Benih kemudian diinkubasikan selama sehari sebelum disebar. Benih hibrida (Arize, SL8SHS, dan Intani 2) disebar dengan kerapatan 15 kg/400 m2 (untuk 1 ha pertanaman), sedangkan IR 64 disebar dengan 20 kg/200 m2 (untuk 1 ha pertanaman, sesuai dengan kebiasaan petani setempat). Setiap varietas padi disebar pada bedengan yang terpisah. Selama persemaian dilakukan pemupukan untuk setiap hibrida sesuai dengan rekomendasi masing-masing varietas, sedangkan untuk IR 64 tidak dilakukan pemupukan. Untuk Arize pemupukan dilakukan pada saat tanaman berumur enam hari setelah sebar dengan pupuk Urea (22 g/m2), SP36 (17 g/m2) dan KCl (10 g/m2), SL8SHS dipupuk dua kali saat tanaman dengan satu dan lima daun, masing-masing dengan Urea (5 g/m2), dan Intani 2 dengan pupuk NPK (10 g/m2) bersamaan dengan penyebaran benih. Tanah dijaga tetap basah.

D. Rancangan Percobaan

 Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan lima varietas padi, yaitu Arize, Intani 2, SL8SHS, IR 64 dan IR 64 Plus, masing-masing dengan tiga ulangan.  Setiap varietas ditanam dalam petak berukuran 10×10 m dengan jarak tanam 20×20 cm untuk semua varietas. Petak antar varietas dibatasi dengan pematang, dan masing-masing petak mempunyai lubang aliran air masuk dan keluar sehingga tidak saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

 E. Penanaman

Bibit padi ditanam pada umur 25 hari setelah sebar. Bibit hibrida (Arize, SL8SHS, dan Intani 2) ditanam dengan cara satu batang per lubang sedangkan untuk IR 64 sesuai dengan kebiasaan petani setempat (3-4 batang per lubang).

 F. Pemeliharaan Tanaman

Cara pemupukan (jenis, dosis, dan waktu aplikasi) dilakukan sesuai dengan anjuran untuk setiap varietas (Tabel 1). Pemupukan untuk IR 64 disesuaikan dengan kebiasaan petani setempat, dan untuk IR 64 Plus mengikuti pola yang sama dengan IR 64 kecuali ada tambahan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat pada saat pengolahan tanah dilakukan.

Tabel 1. Jenis dan dosis pupuk yang digunakan di pertanaman

Jenis pupuk

Varietas, dosis pupuk (kg/ha)

Arize

SL8SHS

Intani 2

IR 64

IR 64 Plus

Urea

270

300

200

250

  250

NPK

    0

200

100

    0

      0

SP36

150

    0

    0

    0

      0

KCl

100

  50

  50

  50

    50

TSP

    0

    0

    0

  50

    50

ZnSO4

    0

  20

    0

    0

      0

Pupuk kandang

    0

    0

    0

    0

5.000

Bakteri bermanfaat

   0

   0

   0

    0

      1

Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan mencabut. Tanaman yang mati karena serangan hama penggerek batang (sundep) tidak dilakukan penyulaman. Pada awal pemindahan tanaman digenangi dengan air (± 1 cm), dan genangan air dijaga (± 2 cm) pada masa pertumbuhan vegetatif. Setelah pemindahan bibit ke lahan sawah, aplikasi pestisida tidak dilakukan.

G. Pengamatan

 

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman

 Bibit padi sebelum dipindahkan diukur lingkar pangkal batang dan tinggi tanaman. Jumlah tanaman contoh yang diamati sebanyak lima batang untuk setiap varietas yang diambil secara random sewaktu tanaman masih dipersemaian. Pengamatan pertumbuhan dan perkembangan padi setelah tanam dilakukan sejak tanaman berumur dua minggu dan dilanjutkan dengan interval satu minggu sampai tanaman berumur 13 minggu. Pengamatan dilakukan pada 20 rumpun padi per petak secara random meliputi tinggi tanaman dan jumlah anakan (vase vegetatif) atau jumlah malai (vase generatif). Pada rumpun padi yang sama juga dilakukan pengamatan hama dan musuh alami yang dilakukan sebelum pengamatan agronomis.

 2. Hama dan Penyakit

             Pengamatan hama selama di persemaian dilakukan secara relatif dari tepi bedengan untuk menghindari kerusakan bibit dengan interval seminggu sekali. Setelah bibit dipindahkan, pengamatan hama utama padi (penggerek batang, wereng batang padi cokelat, wereng hijau, dan walang sangit) dan predator yang umum ditemukan (Coccinellidae, Staphylinidae, dan Lycosa pseudoannulata) dilakukan mulai tanaman berumur dua minggu. Dua puluh rumpun per petak ditentukan secara random sebagai sampel. Pengamatan populasi hama dan musuh alami dilakukan terlebih dahulu sebelum pengamatan kerusakan tanaman oleh penggerek batang, tinggi tanaman, maupun jumlah anakan per rumpun. Pengamatan berikutnya dilakukan dengan interval satu minggu sampai tanaman berumur 13 minggu.

Pengamatan penyakit dilaksanakan dengan mengamati gejala penyakit yang muncul atau tanda penyakit yang menyertainya. Konfirmasi patogen dilakukan dengan mengisolasi jaringan tanaman sakit dan menumbuhkannya pada medium buatan. Pengamatan penyakit tumbuhan dilakukan sejak tanaman padi di persemaian sampai dengan menjelang panen. Observasi dilakukan setiap minggu sekali pada tanaman padi di pesemaian, sedangkan pengamatan di lahan sawah dilakukan dua minggu sekali. Intensitas penyakit diamati dengan skoring pada 10 tanaman sampel yang diambil secara diagonal pada masing-masing petak perlakuan.

 

3. Hasil

Parameter yang diamati meliputi hasil ubinan (2,5 x 2,5 m), kadar air panen, berat 1000 biji, panjang malai, jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah hampa per malai, jumlah gabah per malai, dan persentase gabah hampa per malai. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis of varians (ANOVA) untuk rancangan acak kelompok lengkap. Apa bila terdapat beda nyata pada perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kepercayaan 5%.

 

4. Unsur Hara

Contoh tanah diambil dari daerah sekitar perakaran (rizosfer) setelah padi dipanen. Contoh tanah kemudian dikeringanginkan, ditumbuk, dan disaring untuk mendapatkan bagian lolos saring 2 mm. Kandungan karbon total di dalam tanah ditetapkan menggunakan metoda pembakaran kering (Nelson dan Sommers, 1982), sedangkan kandungan fosfor tersedia ditetapkan secara kolorimetris dengan pengekstrak Olsen (Cottenie dkk., 1982).

5. Sosial Ekonomi

            Analisis usaha tani dilakukan sejak dari persemaian sampai panen. Data tentang harga saprodi didasarkan pada harga pembelian, sedangkan upah tenaga kerja didasarkan upah riil untuk petani setempat. Wawancara terhadap ketua dan anggota kelompok tani juga dilakukan untuk melihat respons mereka tentang penanaman padi hibrida dibandingkan dengan varietas lain yang sudah biasa mereka tanam.

 


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman

             Ketiga bibit padi hibrida (Arize, SL8SHS, dan Intani 2) tumbuh lebih baik dibandingkan dengan IR 64 (Table 2). Perbedaan pertumbuhan disebabkan mungkin karena adanya pemupukan untuk bibit padi hibrida dan atau perbedaan sifat genetik antara padi hibrida dan IR 64. Di samping itu, penyebaran benih yang lebih jarang untuk hibrida dibandingkan dengan IR 64 mungkin juga berpengaruh positif terhadap laju pertumbuhan bibit hibrida.

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman dan diameter pangkal batang

bibit padi siap tanam (25 hari setelah sebar)

 

Varietas

Tinggi tanaman (cm)

Diameter (mm)

Arize

46,0

5,8

SL8SHS

38,3

5,4

Intani 2

41,4

5,8

IR 64

25,5

3,6

IR 64 Plus

28,6

3,6

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan

pupuk kandang dan bakteri bermanfaat

Setelah pemindahan, tinggi tanaman padi hibrida melebihi IR 64 dan SL8SHS lebih tinggi dibandingkan dengan kedua hibrida lainnya (Arize dan Intani 2). IR 64 dan IR 64 Plus menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (Tabel 3).

Tabel 3. Rata-rata tinggi tanaman (cm) padi hibrida dan IR 64

 

Umur

tanaman

(minggu)

Varietas padi

Arize

SL8SHS

Intani 2

IR 64

IR 64 Plus

2

38,3a

  39,6ab

40,2b

26,0c

30,7d

3

49,8a

51,8a

46,0b

34,4c

34,5c

4

  60,9ab

63,5b

58,2a

44,2c

43,6c

6

67,8a

80,5b

68,8a

52,6c

55,3c

7

79,6a

85,9b

80,2a

59,4c

58,4c

8

87,3a

90,6b

  88,9ab

63,6c

64,9c

9

93,9a

97,1b

96,7b

75,4c

74,7c

10

96,0a

   106,2b    101,1c

84,3d

84,2d

11

96,7a

   110,0b    111,3b

82,3c

83,9c

13

96,5a

   106,7b    107,2b

85,8c

83,2d

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

Rata-rata yang diikuti huruf sama untuk setiap pengamatan menunjukkan tidak ada beda nyata.

Perbedaan tinggi tanaman diantara kelima varietas pada saat di persemaian dan setelah pemindahan dipengaruhi oleh jenis maupun dosis pemupukan. Di persemaian Arize menerima jenis dan dosis pupuk yang lebih banyak dibandingkan dengan SL8SHS maupun Intani 2 sehingga tinggi bibit Arize sebelum pemindahan paling tinggi dibandingkan dengan lainnya. Sebaliknya, setelah tanam SL8SHS merupakan varietas yang paling tinggi dan hal ini mungkin terkait dengan penggunaan jenis dan dosis pupuk yang paling banyak diantara ketiga varietas hibrida yang diuji.

Ketiga varietas hibrida secara umum mempunyai jumlah anakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan IR 64, dan jumlah anakan pada perlakuan IR 64 relatif sama dengan IR 64 Plus (Tabel 4). Sedikitnya jumlah anakan pada hibrida menghasilkan jumlah malai yang lebih sedikit pula dibandingkan dengan IR 64. Perbedaan ini mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh sifat genetik dari varietas IR 64 yang mempunyai potensi jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan hibrida.

Tabel 4. Rata-rata jumlah anakan atau malai per rumpun untuk padi hibrida dan

IR 64

 

Umur

tanaman

(minggu)

Varietas padi

Arize

SL8SHS

Intani 2

IR 64

IR 64 Plus

2

   4,9a

   5,7b

    4,9a

     5,3ab

     5,1a

3

      10,1a

12,8b

    7,7c

   9,9a

     9,8a

4

   18,3cd

19,3d

  14,7a

   16,9bc

   15,8ab

6

16,6a

21,3b

  16,1a

 18,7c

   19,2c

7

  17,0ab

15,7a

  17,5b

   16,7ab

   15,5b

8

      17,7a

15,8b

  16,3b

 19,4c

   19,4c

9

  16,7ab

14,8a

   15,6a

  23,2c

   20,7bc

10

  16,9ab

12,5c

   15,8a

 18,5b

   18,2b

11

17,3a

17,2a

   17,9b

  18,5b

   19,4c

13

14,1a

14,5a

   13,3a

  22,2b

   21,2b

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

Rata-rata yang diikuti huruf sama untuk setiap pengamatan menunjukkan tidak ada beda nyata.

B. Hama dan Penyakit

Hama padi yang ditemukan di persemaian adalah belalang hijau, keong emas, dan tikus. Populasi belalang hijau menyerang semua varietas dengan populasi cukup tinggi dan kerusakan daun cukup nyata sehingga seluruh bibit disemprot dengan insektisida imidakloprid sesuai dengan rekomendasi lapangan (0,2 ml/L dengan volume semprot 600 L/ha). Gejala penyakit tidak ditemukan pada semua varietas sampai bibit tersebut dipindahkan ke lahan persawahan.

Hama yang dominan pada saat penelitian dilakukan adalah penggerek batang padi (Table 5), sedangkan populasi wereng batang padi cokelat, wereng hijau, dan walang sangit sangat rendah dan tidak menyebabkan kerusakan tanaman yang nyata. Kerusakan batang padi pada saat tanaman berumur dua minggu tertinggi terjadi pada petak IR 64 Plus diikuti dengan Intani 2. Kerusakan batang pada varietas Arize, SL8SHS dan IR 64 lebih rendah dibandingkan dengan Intani 2 maupun IR 64 Plus. Kerusakan batang padi (sundep) pada petak Intani 2 meningkat tajam pada minggu ketiga dan tingkat kerusakannya paling tinggi dibandingkan dengan petak lainnya. Pengamatan selama satu musim tanam menunjukkan tingkat kerusakan batang padi (sundep dan beluk) pada Intani 2 paling tinggi disusul dengan Arize, sedangkan SL8SHS relatif sama dengan IR 64 maupun IR 64 Plus. Hasil ini mungkin menunjukkan bahwa ngengat penggerek batang padi sama tertariknya untuk meletakkan telur baik pada IR 64 maupun varietas hibrida. Peningkatan kerusakan batang pada hibrida, khususnya Arize dan Intani 2, dimungkinkan karena survival rate larva yang hidup pada varietas tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan yang hidup di IR 64 karena ukuran batang padi yang lebih besar, dan atau jumlah anakan IR 64 yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas hibrida.

Tabel 5. Kerusakan (%) batang padi oleh penggerek batang

 

Umur

tanaman

(minggu)

Varietas padi

Arize

SL8SHS

Intani 2

IR 64

IR 64 Plus

2

1,4a

1,7a

5,8b

0,7a

9,9c

3

7,4a

2,3b

    13,7c

  5,2ab

  4,0ab

4

4,0a

2,4a

6,7b

3,3a

3,6a

6

8,4a

     1,5b

8,6a

2,2b

1,3b

7

5,9a

   5,0ab

  3,4bc

0,9d

  1,6cd

8

1,0a

2,5b

0,7a

0,3a

 0,4a

9

   0,5ab

   0,7ab

0,7b

  0,4ab

 0,0a

10

1,8a

   0,9ab

 1,0ab

0,6b

 0,6b

11

1,4a

0,9a

0,9a

0,8a

 0,7a

13

2,4a

3,5a

 2,2ab

0,8b

 0,5b

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bekteri bermanfaat.

Rata-rata yang diikuti huruf sama untuk setiap pengamatan menunjukkan tidak ada beda nyata.

Kerusakan tanaman oleh penggerek lebih nyata ketika dilakukan penghitungan rumpun padi yang mati pada saat fase vegetatif. Jumlah rumpun yang hilang tertinggi pada Intani 2 dengan rata-rata 37,3 rumpun per petak, 4,7 rumpun per petak untuk Arize dan SL8SHS, dan 3 serta 3,7 rumpun per petak untuk masing-masing IR 64 dan IR 64 Plus.

Penyakit utama yang dijumpai pada tanaman padi di lahan sawah adalah penyakit busuk pelepah (sheath blight) yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani  dan penyakit becak daun cercospora yang disebabkan Cercospora oryzae. Penyakit busuk pelepah mulai terlihat pada varietas padi hibrida pada umur sekitar 45 hari sedangkan pada varietas IR 64 mulai terlihat pada umur sekitar 60 hari setelah tanam. Penyakit becak daun cercospora terlihat pada varietas IR 64 pada umur 75 hari dan vaietas padi hibrida pada umur 90 hari setelah tanam.

Intensitas penyakit busuk pelepah pada ketiga varietas padi hibrida lebih tinggi daripada varietas IR 64. Intensitas penyakit busuk pelepah tertinggi dijumpai pada padi hibrida varietas Arize (Tabel 6). Intensitas penyakit becak daun cercospora pada padi ungul varietas IR 64 lebih tinggi daripada ketiga varietas padi hibrida (Tabel 6).

 

Tabel 6. Intensitas penyakit busuk pelapah dan becak daun cercospora

 

Varietas padi

Umur tanaman (minggu setelah tanam)

0

2

4

6

8

10

12

14

A. Busuk pelepah
Arize

0

0

0

3.7

3.7

6.7

 15

30

SL8SHS

0

0

0

5

12

 20

 20

25

Intani 2

0

0

0

5

6.7

15.2

17.3

20

IR 64

0

0

0

0

   0

3.7

3.7

 6.7

IR 64 Plus

0

0

0

0

   0

3.7

3.7

6.7

B. Becak daun cercospora
Arize

0

0

0

0

0

   0

  5

  5

SL8SHS

0

0

0

0

0

   0

  0

  2

Intani 2

0

0

0

0

0

   0

  0

  2

IR 64

0

0

0

0

0

3.7

10

15

IR 64 Plus

0

0

0

0

0

3.7

10

15

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

 

Penyakit busuk pelepah dapat menyebabkan kerugian yang sangat signifikan apabila serangan patogen terjadi lebih awal yang dapat menyebabkan pelepah busuk sehingga tanaman tidak menghasilkan padi. Intensitas penyakit busuk pelepah kemungkinan akan lebih meningkat apabila lahan ditanami dengan jenis tanaman yang sama atau sekeluarga karena populasi inokulum patogen akan meningkat pula. Penyakit becak daun cercospora, BLB dan BRS akan sangat merugikan apabila serangan terjadi sebelum fase generatif. Pada penelitian ini serangan terjadi setelah masa kritis fase generatif lewat sehingga tidak begitu mempengaruhi hasil.

Penyakit-penyakit lain yang muncul adalah penyakit bacterial red stripes (BRS) dan bacterial leaf blight (BLB) namun dengan intensitas penyakit yang sangat rendah (< 2%).

C. Hasil

Hasil ubinan menunjukkan tidak ada beda nyata antara varietas hibrida dengan non hibrida, sedangkan tujuh variabel lainnya menunjukkan ada beda nyata antar varietas (Tabel 7). Varietas Intani 2 menunjukkan hasil yang tertinggi diantara varietas hibrida lainnya untuk variabel berat 1000 biji, meskipun tidak berbeda nyata dengan SL8SHS. Varietas Intani 2 juga mempunyai panjang malai terpendek diantara varietas hibrida yang lain tetapi jumlah bulir isi maupun total tidak berbeda dengan dua varietas hibrida lainnya. Meskipun jumlah bulir padi isi ataupun total untuk IR 64 lebih sedikit dibandingkan dengan varietas hibrida, hasil ubinan tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena jumlah malai pada IR 64 lebih banyak dibandingkan dengan ketiga hibrida. Oleh karena itu, risiko kehilangan hasil oleh serangan OPT (khususnya penggerek batang padi) pada hibrida lebih tinggi dibandingkan dengan IR 64 karena potensi kompensasi lebih rendah.

Penambahan pupuk kandang 5 ton/ha tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap IR 64 untuk semua variabel yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk kandang yang ditambahkan belum dapat meningkatkan hasil maupun komponen hasil varietas IR 64.

Tabel 7. Rata-rata beberapa variabel yang diamati saat panen

 

Varietas

Rata-rata variabel pengamatan

Hasil ubinan

(kg)

Kadar air panen

(%)

Berat 1000 biji

(g)

Panjang malai

(cm)

Jumlah gabah isi

(butir)

Jumlah gabah hampa

(butir)

Jumlah gabah per malai

(butir)

Gabah hampa per malai

(%)

Arize 4,12a 20,87ab 23,87c 25,77a 166,67a 38,67ab 205,33a 18,39ab
SL8SHS 4,21a 21,97a 26,94ab 25,33ab 186,00a 51,07a 237,07a 21,06 a
Intani 2 4,36a 19,87b 28,57a 22,32c 175,00a 29,47ab 204,47a 14,29ab
IR 64 3,70a 20,63ab 25,96bc 23.07bc 103,40b 10,67b 114,07b   9,19 b
IR 64 Plus 3,50a 19,97b 24,75bc 22,62c   79,10b 11,40b   90,50b 12,79ab

Keterangan: ukuran ubinan (2,5 x 2,5 m).

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

Rata-rata yang diikuti huruf sama untuk setiap pengamatan menunjukkan tidak ada beda nyata.

Apabila hasil ubinan dibandingkan dengan hasil potensi (Dirjen Tanaman Pangan, 2006; Suprihatno dkk., 2007) menunjukkan bahwa hasil ubinan untuk padi hibrida maupun IR 64 masih di bawah hasil potensi. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan sistem budidaya tanaman padi (misalnya, kesehatan tanah dan teknik budidaya) perlu dilakukan.

 

D. Unsur Hara

Kandungan hara dalam pupuk yang diberikan untuk tanaman padi dalam penelitian ini cukup bervariasi (Tabel 8).

Tabel 8. Hara dalam pupuk (kg/ha) yang digunakan pada penelitian

Unsur hara

Arize

SL8SHS

Intani 2

IR 64

IR 64 Plus

N

124

168

107

115

115

P2O5

54

30

15

23

23

K2O

60

60

45

30

30

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

 

Anjuran penyedia benih menunjukkan bahwa kebutuhan nitrogen padi hibrida, kecuali SL8SHS, tidak terlalu berbeda dengan padi IR 64. Berbeda dengan kebutuhan hara nitrogen, kebutuhan fosfor padi hibrida Arize dan SL8SHS lebih tinggi (30% hingga 135%) daripada padi IR 64. Kebutuhan kalium semua padi hibrida lebih tinggi (50% hingga100%) daripada padi IR 64. Hal ini menunjukkan bahwa untuk peningkatan produksi padi hibrida, kecuali padi hibrida Intani 2, diperlukan pasokan hara yang lebih tinggi daripada padi IR 64. Untuk membuktikan diperlukannya tingkat penyediaan hara yang lebih tinggi, diamati pula kandungan karbon dan fosfor yang tersisa di dalam tanah setelah pemanenan.

Pengamatan kandungan karbon total dan fosfor tersedia dalam tanah rizosfer setelah pemanenan padi menunjukkan adanya perbedaan antara rizosfer padi hibrida dengan padi IR 64 (Tabel 9). Rizosfer padi hibrida memiliki kandungan karbon total yang lebih rendah daripada rizosfer padi IR 64. Hal ini menunjukkan adanya dekomposisi bahan organik yang lebih cepat pada rizosfer padi hibrida. Penambahan pupuk kandang pada takaran 5 ton/ha belum dapat meningkatkan kandungan bahan organik di rizosfer padi IR 64. Kandungan fosfor tersedia pada rizosfer padi hibrida juga lebih rendah dibandingkan dengan rizosfer padi IR 64, terutama pada cara budidaya alternatif yang memberikan tambahan pupuk kandang ke dalam tanah. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang 5 ton/ha mampu menahan laju pelindian fosfor tersedia dari dalam tanah. Hasil pengamatan kandungan karbon total dan fosfor tersedia dalam tanah rizosfer setelah pemanenan padi menunjukkan kerakusan padi hibrida terhadap unsur hara tanah. Hal ini perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan pengurusan tanah. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang pada takaran 5 ton/ha dapat menahan laju pelindian hara yang mudah larut. Oleh karena itu, penambahan bahan organik tanah berupa pupuk kandang atau kompos pada setiap musim tanam perlu selalu dianjurkan kepada petani.

Tabel 9. Kandungan karbon total dan fosfor tersedia di rizosfer padi

setelah panen

Varietas

Kandungan karbon total (%)

Kandungan fosfor tersedia (ppm)

Arize

4.64a

111,8a

SL8SHS

4.46a

123,8a

Intani-2

4.50a

  91,4a

IR 64

7.40b

 150,0ab

IR 64 Plus

7.95b

185,8b

Catatan: Angka diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata.

IR 64 Plus: Pemupukan sama dengan IR 64 ditambah perlakuan pupuk kandang dan bakteri bermanfaat.

 E. Sosial Ekonomi

Dilihat dari keuntungan nominal yang diperoleh, Intani 2 memberikan keuntungan yang paling besar diikuti dengan Arize, SL8SHS, IR 64, dan IR 64 Plus. Perbedaan antara IR 64 dan IR 64 Plus disebabkan karena adanya biaya tambahan untuk pupuk kandang pada IR 64 Plus dan penambahan tersebut tidak memberikan peningkatan hasil panen (Table 10). Namun demikian, kalau perhitungan didasarkan pada benefit-cost ratio maupun revenue-cost ratio, IR 64 mempunyai nilai yang paling tinggi berturut-turut 4,74 dan 5,74. Untuk hibrida benefit-cost ratio berkisar antara 3,65-4,51, sedangkan untuk revenue-cost ratio antara 3,84-4,74. Hasil tersebut menunjukkan bahwa petani yang menanam varietas padi hibrida mempunyai potensi keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan IR 64, tetapi juga mempunyai risiko yang lebih besar baik risiko sesaat, misalnya hilangnya hasil karena hama dan penyakit, maupun risiko dalam jangka yang lebih panjang, misalnya pemiskinan unsur hara.

Respons petani terhadap introduksi varietas hibrida menunjukkan adanya beberapa kekhawatiran. Dalam penelitian ini yang dimaskud respons petani adalah tanggapan petani terhadap padi hibrida, baik tentang benih maupun teknik budidayanya. Dilihat dari kebutuhan tenaga kerja pada setiap kegiatan budidaya mulai dari persemaian sampai panen, hanya pada kegiatan tanam yang kebutuhannya meningkat 50%, sedangkan kebutuhan yang lain relatif sama. Hal ini disebabkan pada penanaman padi hibrida petani harus memperhatikan bahwa pada satu lubang tanam hanya diberi satu tanaman saja, sementara pada penanaman yang biasa dilakukan tidak begitu diperhatikan (bisanya lebih dari dua batang). Kenyataan ini menurut petani, penanaman padi hibrida lebih ribet dan karena kebutuhan tenaganya lebih banyak tentunya biaya yang dikeluarkan juga relatif lebih banyak.

Berkaitan dengan ketersediaan benih, petani juga masih mempertanyakan apakah setiap akan memulai tanam, benih pasti tersedia? Dengan menanam padi hibrida petani belum dapat membuat benih sendiri, yang berarti petani sangat tergantung dengan pihak di luar mereka. Ketergantungan ini juga dirasa petani tidak begitu nyaman dan pengalaman selama ini kalau benih itu membeli biasanya pada saat dibutuhkan tidak tersedia dan susah didapatkan. Kebiasaan setempat berkaitan dengan benih adalah membuat sendiri dengan mengambil bulir padi dari tanaman yang dinilai petani baik untuk dijadikan benih. Petani di Botokenceng juga pernah diminta sebagai penangkar benih padi organik dan berhasil. Permasalahan yang ada pada waktu itu adalah ingkar janji dari pihak yang menjanjikan akan membeli benih padi tersebut.

Disamping faktor ketersediaan, petani juga merasa keberatan dengan benih padi hibrida karena harganya yang terlalu mahal. Biasanya mereka hanya mengeluarkan Rp. 4.500 – Rp. 5.000,- per kilogram benih, dengan benih padi hibrida mereka harus membayar Rp. 40.000,- – Rp. 50.000,- per kilogramnya. Kenaikan yang 10 kali lipat ini membuat petani berpikir dua kali. Pada saat ini karena benih disubsidi meraka tidak keberatan, tetapi jika nantinya harus membeli sendiri petani merasa keberatan.

 

Dari sisi pertumbuhan fisik tanaman, petani berpendapat bahwa tanaman padi hibrida lebih subur dan lebih tinggi. Keadaan fisik yang seperti ini memudahkan petani di dalam pemeliharaan dan pemanenan. Banyaknya bulir pada setiap malai padi hibrida lebih banyak jika dibandingkan dengan bulir padi pada IR 64 dan Ciherang. Jumlah batang per rumpun padi hibrida lebih sedikit dibandingkan IR 64 dan Ciherang.

Kebutuhan pupuk padi hibrida yang bermacam-macam bagi petani tidak begitu masalah, karena menurut mereka tidak begitu banyak berbeda dengan kebutuhan pupuk IR 64 yang biasanya mereka lakukan.

Satu kendala lainnya yang dikhawatirkan petani adalah tentang OPT. Dari penelitian yang ada dan berita yang diperoleh, hama yang sering menyerang tanaman padi hibrida adalah wereng batang padi cokelat. Hal ini menyebabkan petani enggan akan menanam padi hibrida, karena  berdasarkan pengalaman jika padi sudah diserang wereng batang padi cokelat kegagalan panennya sangat dirasakan, sehingga petani berharap bisa diciptakan varietas padi yang tahan terhadap serangan wereng batang padi cokelat.

 

IV. KESIMPULAN

 

Padi hibrida Arize, SL8SHS, dan Intani 2 memberikan hasil panen yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan IR 64, dan diantara ketiga hibrida tersebut Intani 2 merupakan varietas terbaik. Keunggulan ketiga hibrida tersebut bersifat situasional karena risiko yang dipunyai oleh padi hibrida lebih tinggi dibandingkan dengan IR 64. Benefit-cost maupun revenue-cost ratio untuk padi hibrida lebih rendah dibandingkan dengan IR 64. Intani 2 peka terhadap serangan penggerek batang padi dan ketiga hibrida juga peka terhadap busuk pelepah. Tingkat kerentanan tersebut menyebabkan risiko bertambah besar karena jumlah anakan dan malai padi hibrida lebih sedikit dibandingkan dengan IR 64. Risiko pemiskinan unsur hara (C dan P) oleh hibrida lebih besar dibandingkan dengan IR 64 sehingga dikhawatirkan masukan enerji yang diperlukan akan semakin besar setelah penanaman berulang kali. Mempertimbangkan keuntungan dan risiko yang ada, petani cenderung untuk menanam IR 64.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: