Issue Lingkungan Hidup Daerah Cianjur


 Cianjur Bagian Selatan
naringgul-1Wilayah Cianjur Bagian Selatan meliputi Kecamatan Agrabinta, Leles, Sindang Barang, Cidaun, Cibinong, Cikadu, dan Naringgul. Adapun isu lingkungan utama pada wilayah ini adalah terkait dengan masalah lahan, pencemaran air, potensi wisata yang belum optimal,  infrastruktur,  dan rawan bencana.

a.    Lahan

Sebagian besar wilayah Cianjur Selatan merupakan daerah hutan sekunder dimana pada musim kemarau hampir separuh dari hutan-hutan tersebut mengalami kekeringan. Sebagian lahan hutan juga terancam menjadi lahan kritis karena gundul, sehingga mengakibatkan terjadinya erosi dan longsor di beberapa daerah. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, yaitu:

  1. Lahan kritis di areal pertanian (kebun), yang disebabkan petani tidak mampu menggarap lahan kebunnya pada musim kemarau karena kurangnya air.
  2. Hutan gundul dan morfologi tanah yang lebih banyak mengandung batu-batuan.

Adanya konversi lahan dari lahan hutan campuran menjadi lahan permukiman seluas 50 Ha dan lahan Perhutani seluas 550 Ha berdasarkan SK Gubernur; Surat izin Pembukaan Lahan Tidur Leuweung Ciogong No 293/1839/PEN, UM/4 Juli/2000 seluas 1.100 Ha.

b.   Pemanfaatan Potensi Wisata yang belum optimal

Wilayah Kabupaten Cianjur bagian Selatan memiliki daerah pesisir yang berpotensi sebagai daerah wisata, namun sampai saat ini potensi wisata tersebut belum berkembang, yang disebabkan kondisi akses darat masih buruk, akses utara belum tersedia, belum adanya jalan alternatif yang lebih dekat. Disamping itu saat ini sepanjang derah pesisir/pantai telah dikuasai oleh sekelompok pengusaha. Hal ini menyulitkan bagi pemerintah daerah kelak dalam melakukan pengaturan pemanfaatan lahan untuk tujuan pelestarian lingkungan.

c.    Infrastruktur

Infrastruktur di Wilayah Cianjur bagian Selatan masih belum merata, terutama jaringan jalan yang menghubungkan Ibu Kota Kecamatan.  Hal ini seperti terlihat pada ruas jalan di Kecamatan Agrabinta, sedangkan jaringan jalan didalam wilayah Kecamatan masih berbentuk batu. Sementara itu untuk jaringan listrik, dan komunikasi (telepon rumah dan telepon selular)  telah menjangkau seluruh wilayah selatan.

d.    Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana alam meliputi rawan bencana alam gunung api, gempa bumi, gerakan tanah, gelombang pasang dan banjir.

  1. Kawasan rawan bencana gempa bumi terletak di Utara dan Tengah Cianjur.
  2. Kawasan rawan bencana letusan gunung api, yaitu di sekitar kawasan di sekitar Gunung Gede Pangrangro.
  3. Kawasan rawan bencana tanah longsor dan gerakan tanah, tersebar seluas kurang lebih 15.000 ha, dengan lokasi meliputi; Kecamatan Pacet, Cikalong Kulon, Sukaresmi, Mande, Cibeber, Campaka, Sukanagara, Takokak, Kadupandak, Pagelaran dan Cianjur Selatan, terutama di sepanjang daerah aliran Sungai Cidaun (Kecamatan Cidaun dan Naringul), aliran sungai Cipandak, Sungai Ciujung dan Cisadea, Sungai Cibuni (Kecamatan Tanggeng, Pagelaran dan Kadupandak), aliran sungai Cikondang dan Curug (Kecamatan Cibeber dan Campaka). Daerah lain yang merupakan daerah rawan longsor dalam sebaran kecil tersebar di beberapa lokasi antara lain; Kecamatan Cikalong Kulon, Pacet, Cugenang dan Takokak.
  4. Kawasan rawan banjir, yaitu di Kecamatan Cilaku, Tanggeung dan Kadupandak.
  5. Kawasan rawan gelombang pasang laut (tsunami) yaitu di Kecamatan Agrabinta, Sidangbarang dan Cidaun.
Cianjur Bagian Utara
Wilayah Kabupaten Cianjur bagian Utara meliputi Kecamatan Cianjur, Cibeber, Warungkondong, Gekbrong, Cilaku, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Pacet, Cipanas, Cugeunang, Cikalongkulon dan Sukaresmi.

Karakteristik Kabupaten Cianjur bagian Utara dikelompokan menjadi 3, yaitu:

  1. Sub wilayah tengah-barat meliputi Cipanas-Puncak (Pacet, Cipanas, sebagian Sukaresmi dan sebagian Cugeunang).
  2. Sub wilayah timur meliputi Bojongpicung, Sukaluyu, Ciranjang, Cianjur, Warungkondang, Gekbrong dan Cilaku.
  3. Sub wilayah utara meliputi sebagian Sukaresmi dan Cikalong Kulon.

A.  Wilayah Tengah-Barat

Kegiatan yang menonjol di daerah ini adalah kegiatan pariwisata seperti hotel, rumah makan, villa/bungalow, resort area, rest area, penjual tanaman, plant nursery dan kegiatan perkotaan (Kota Cipanas). Selain itu wilayah ini juga dilalui oleh jaringan jalan regional Bandung-Bogor-Jakarta. Adapun isu-isu utama yang menonjol adalah:

  1. Terjadinya konversi lahan pertanian/perkebunan menjadi kawasan pariwisata dan permukiman.
  2. Timbulnya kemacetan pada hari libur.
  3. Menurunya pasokan air minum untuk masyarakat Kota Cipanas karena sumber air yang ada banyak dimanfaatkan oleh kegiatan wisata khususnya hotel dan villa dengan adanya sumur bor.
  4. Kegiatan pariwisata sebagai primadona nampaknya  belum banyak berpengaruh (menetes) pada kegiatan masyarakat setempat. Hanya sebagian kecil saja penduduk setempat yang bekerja pada sektor pariwisata.
  5. Terjadinya penguasaan lahan oleh investor.
  6. Terjadinya perubahan fungsi lahan pertanian tanaman keras menjadi tanaman semusim atau bahkan menjadi lahan kritis.

B. Sub Wilayah Bagian Timur

Kegiatan yang menonjol pada wilayah ini bersifat rural dengan ibu kota kecamatan sebagai pusat pertumbuhanya. Adapun kegiatan hinterlannya berupa kegiatan pertanian sedangkan ibu kota kecamatan berfungsi sebagai pusat pelayannya. Tidak ada persoalan yang cukup penting pada daerah ini, permasalahan yang ada hanyalah masalah manajemen kota, seperti pedagang kaki lima, sanitasi lingkungan, pencemaran air dan persampahan yang belum terkelola dengan optimal.

C. Sub Wilayah Bagian Utara

Wilayah ini meliputi sebagian Kecamatan Sukaresmi, dan Kecamatan Cikalong Kulon. Masalah yang menonjol pada darah ini adalah :

  1. Terjadinya penguasaan lahan oleh investor dari luar.
  2. Terjadinya perubahan fungsi lahan pertanian tanaman keras menjadi tanaman semusim atau bahkan menjadi lahan kritis.
  3. Terjadinya kekeringan setiap musim kering.
  4. Terbatasnya penyaluran air buangan.
  5. Topografi yang memisahkan sub wilayah utara dengan sub wilayah tengah oleh S. Cikundul sangat mempengaruhi keterpencilan daerah di sub wilayah utara.
  6. Terbatasnya prasarana sosial ekonomi seperti sekolah dan pasar.
Cianjur Bagian Tengah
Wilayah Kabupaten Cianjur bagian tengah meliputi Kecamatan Sukanagara, Campaka, Campakamulya, Pagelaran, Takokak, Tanggeung, Kadupandak, dan Cijati.

a.    Lahan

Sebagian besar wilayah Cianjur bagian tengah merupakan daerah hutan sekunder dan perkebunan teh. Namun pada musim kemarau hampir separuh dari hutan-hutan tersebut mengalami kekeringan. Sebagian lahan hutan juga terancam menjadi lahan kritis karena gundul. Keadaan ini telah menyebabkan terjadinya erosi dan longsor di beberapa daerah. Lahan kritis juga terjadid areal pertanian (kebun). Hal ini disebabkan karena petani tidak mampu menggarap lahan kebunnya pada musim kemarau karena ketiadaan air. Di Kecamatan Campaka telah dilakukan upaya reboisasi dengan tanaman pinus.

b.    Infrastruktur

Infrastuktur di Wilayah Cianjur bagian tengah relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi jalan di Wilayah Cianjur bagian Selatan. Jaringan jalan yang menghubungkan ibu kota kecamatan sudah baik. Sedangkan jaringan jalan internal di masing-masing wilayah kecamatan masih terbatas dengan perkerasan batu sebagaimana yang ditemui di Kecamatan Pagelaran dan Kecamatan Tanggeung. Jaringan listrik dan telepon masuk ke wilayah Cianjur bagian tengah.

c.    Pencemaran

Saat ini banyak terdapat penambangan emas di Kecamatan Campaka yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mencemari sungai Cibitung oleh logam berat (merkuri), yang digunakan oleh para penambang untuk memisahkan emas dari batuan lainnya.

d.    Rawan Bencana

Wilayah Cianjur bagian tengah juga memiliki kawasan rawan bencana gempa bumi  dan akan tangah. Untuk gerakan tanah, banyak terdapat di Kecamatan Kadupandak (6.633,53 Ha), Kecamatan Pagelaran (6.464,93 Ha) dan Kecamatan Tanggeung (6.311 Ha).

Banjir

Banjir besar terakhir terjadi pada tahun 2004 di Cidaun dan beberapa lokasi di wilayah Cianjur Selatan karena luapan air sungai Cidaun dan sungai Cidamar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kadangkala banjir terjadi karena adanya tanah longsor yang memang sering terjadi di Cianjur Selatan. Longsoran tanah menutup aliran sungai sehingga air tersumbat dan meluap.

Penurunan kualitas dan kuantitas air dapat berdampak pada keanekaragaman hayati di Kabupaten Cianjur. Air merupakan kebutuhan primer makhluk hidup. Jika kondisi air buruk, maka kehidupan alam, terutama biota perairan akan terancam. Apabila kehidupan perairan terganggu, maka sektor perikanan di darat maupun laut juga akan terganggu. Hal ini dapat berarti menurunnya hasil tangkapan maupun kualitas hasil tangkapan. Selain itu, kesejahteraan masyarakat, terutama kesehatan juga dapat terganggu akibat penurunan kualitas dan kuantitas air bersih.

Copyright © Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur
Jl. Raya Bandung Km. 2 Karang Tengah – Cianjur

http://slhd.cianjurkab.go.id

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: